Selasa, 26 Oktober 2010

Oksigen, Nikmat Allah Yang Tak Pernah Disyukuri


Masihkah anda bernafas dengan nyaman hari ini? Apabila kurang, berarti bisa saja itu karena anda terserang Influenza. Namun yang jelas apabila anda masih merasakan udara dalam paru–paru, anda masih merasakan ’kehidupan’. Sekarang bagaimana apabila udara itu sedikit sekali hingga sulit kita hirup?
Oksigen atau udara yang kita hirup sehari–hari itu hampir–hampir tidak pernah disadari sebagai kebutuhan mutlak supaya manusia itu dapat bertahan hidup. Ini karena ia (Oksigen) sudah tersedia begitu banyaknya di Bumi ini, hingga di banyak kondisi kita tidak perlu membayar sejumlah uang untuk jasa penyedia Oksigen.
Allah SWT telah mengatur penyediaan Oksigen bagi manusia hingga sedemikian sempurnanya. Sampai–sampai kita dibuat tidak sadar pula bahwa keberadaan kita menginjak Bumi ini juga sesuai dengan tekanan udara. Bagaimana apabila kita diciptakan selalu terbang ke angkasa atau dengan gravitasi nol? Bagaimana apabila kita ditempatkan di Planet selain Bumi? Maka jawaban akan pertanyaan ini sudah ada dalam al Qur’an 14 abad yang lalu: 


Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.
(QS. Al An'aam (6): 125)

            Dalam ayat di atas, disesatkan Allah berarti bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. Dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan (di ayat sebelumnya), maka mereka itu menjadi sesat.
            Ayat diatas secara jelas menyebutkan kalimat: Yashsho’adu Fissamaa’ (Mendaki Langit) dan bukan Yashsho’adu Fil Jibaal (Mendaki Gunung). Apakah al Qur’an salah, karena kata kerja untuk pergi ke Langit adalah Terbang bukan Mendaki? Apakah kalimat tersebut hanya ungkapan Syair semata? Jelas tidak jawabannya menurut orang yang berpengatahuan.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa setiap bertambah ketinggian naik ke udara, maka akan bertambah sesak napasnya karena berkurangnya tekanan udara. Juga karena berkurangnya jumlah oksigen yang dihirup paru – paru. Hakikat ini tidak mudah untuk dibuktikan secara praktis kecuali apabila manusia terbang ke atas udara.
            Sampai beberapa masa terakhir, orang–orang mengira bahwa udara menyebar luas hingga angkasa luar. Akan tetapi, setelah manusia terbang dan meninggi di angkasa pada ketinggian tertentu, ia megetahui bahwa meninggi sejauh satu kaki di udara akan membuat sesak dadanya. Sehingga, merasa dipeluk karena berkurangnya kepadatan udara dan jumlah oksigen yang diperlukan untuk bernapas dengan cepat sekali sesuai dengan bertambahnya ketinggian.
Hal ini terbukti di Pesawat Terbang, maskapai penerbangan tampaknya saling bersaing untuk menciptakan suasana terbang di ketinggian 30.000 atau 40.000 kaki (9.140 atau 12.200 m) di atas permukaan tanah senyaman mungkin, bagaikan di rumah sendiri, dan serupa dengan kehidupan di permukaan tanah Beberapa maskapai membanggakan makanan dan minuman anggur yang lezat, menyediakan majalah dan bantal, serta sesuatu yang kita anggap pasti ada di mana pun kita berada menyediakan udara dengan inn peratur dan tekanan yang nyaman bagi kita.
Sesungguhnya, udara ini datang dari luar pesawat terbang, namun sebelum sampai kepada anda udara melewati sistem yang memberi tekanan dan mengatur temperatur yang rumit, yang mempunyai beberapa sistem pengganti untuk memaksimalkan keselamatan.
Baling-baling dalam mesin Boeing 747 mengisap udara dari luar ke dalam kompresor mesin. Sebagian kecil dari udara ini dibelokkan langsung ke dalam sistem pneumatik untuk disesuaikan temperaturnya  dan diberi tekanan, menghindari ruang pembakaran sehingga tidak menyertakan elemen buangan yang beracun. Karena temperaturnya mencapai sekitar 204°C dalam kompresor, udara perlu didinginkan dengan udara yang baru, dingin dari luar. Diambil di bawah badan pesawat terbang udara luar ("udara yang dipaksa masuk lewat bukaan yang bergerak"), yang di ketinggian 45.000 kaki (13.700 m) mempunyai temperatur kira-kira -56,7°C.
Boeing 747 dapat mengendalikan dan mempertahankan temperatur berbeda di empat zona berbeda dalam pesawat: ruang kokpit, ruang penumpang di hidung, ruang penumpang di tengah, dan ruang penumpang di belakang. Tiga peralatan untuk mendaur udara, masing-masing terdiri dari baling-baling, kompresor, dan turbin yang menggunakan as yang sama, bekerja bersama-sama untuk mendinginkan udara dal.mi sistem pneumatik. Alat tersebut disesuaikan untuk mendinginkan udara sampai maksimum yang diperlukan oleh zona; udara ini kemudian dimasukkan ke dalam tangki penampungan (coldplenum) umum. Dari situ udara diarahkan ke zona yang memerlukan temperatur paling dingin. Karena zona yang memerlukan temperatur yang lebih hangat, udara panas dapat ditambahkan sepanjang perjalanan untuk meningkatkan temperatur dari udara dingin sampai yang diinginkan.

 
Peralatan untuk mendaur udara menyediakan 8.000 kaki kubik (225 in1) udara segar per menit, dan sistem distribusi menambah 2.000 kaki kubik (56 m3) lagi per menit dari udara yang didaur ulang. Katup yang dioperasikan secara elektris mengendalikan jumlah udara panas atau dingin yang memasuki saluran dan dapat mengatur aliran udara melewati kombinasi mesin mana pun dan kombinasi peralatan mana pun; fleksibiilitas tersebut memastikan keamanan dalam kejadian satu atau bahkan dua peralatan menjadi tidak berfungsi. Dalam kabin utama, udara masuk sepanjang dinding samping setinggi rak untuk menggantung topi. Kira-kira 20 persen dari udara naik ke langit-langit, di situ baling-baling mengarahkannya kembali ke saluran pasokan. Udara buangan keluar melewati lubang di dinding samping sedikit di atas lantai dan disirkulasikan ke bawah untuk menghangatkan ruang bagasi, yang biasanya mempunyai temperatur 4,4-18,3°C.
Sama seperti pemanasan, pendinginan dan sirkulasi ulang dilakukan secara terus-menerus sewaktu pesawat sedang terbang, pengaturan tekanan udara dipertahankan dan juga dimonitor dengan saksama. Lewat panel dalam kokpit, pilot dapat mengendalikan tekanan udara dalam kabin secara manual, atau dapat dikendalikan secara otomatis. Tekanan udara turun ketika pesawat menurun; untuk mengimbangi keadaan ini, pesawat terbang harus "memompa untuk menaikkan tekanan" agar keadaan dalam kabin terasa cukup nyaman. Karena udara yang dipompakan dari stratosfer mengandung lebih sedikit oksigen, nitrogen, dan gas lain daripada yang biasa kita rasakan, lebih banyak udara dipompa masuk secara terus-menerus, dimampatkan, didinginkan, dan dilepaskan lewat sistem pendingin udara.
Sistem yang sepenuhnya otomatis mengukur jumlah tekanan yang diperlukan untuk menghindari kerusakan struktural atau ketidaknyamanan penumpang. Pada ketinggian 45.000 kaki (13.700 m), atmosfer di dalam pesawat terbang dapat dibandingkan dengan di ketinggian 8.000 kaki (2.440 m), yang cukup nyaman karena kerja fisik yang ekstrem dan berkepanjangan tidak diperlukan. Kalau pesawat turun, ada sistem katup yang melc paskan tekanan di dalam kabin secara perlahan-lahan, sehingga penum pang dan awak mengalami penyesuaian dengan ketinggian bandara yang didarati, dan pintu dari pesawat yang kedap udara dapat dibuka dengan aman tanpa ada udara yang mengalir masuk atau keluar dengan tiba-tiba.[1]
            Maka dari rumitnya penyediaan oksigen di kapal terbang yang tidak henti – hentinya kita hirup itu, bersyukurlah di setiap hari–hari anda. Mungkin hanya inilah alasan mengapa tidak ada yang namanya ‘Hari Sial’, setiap hari adalah Nikmat Allah, karena di setiap hari itu masih terdapat Oksigen yang menghidupkan kita. Kemudian yang dapat disimpulkan dari ayat tersebut bahwa al Qur’an itu memang benar–benar wahyu Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Juga menegaskan bahwa al Qur’an adalah mukjizat yang kakal abadi pada masa modern ini.
            Mengapa bisa begitu? Silahkan anda fikirkan sendiri apakah pada masa Nabi Muhammad saw, yaitu 14 abad yang lalu itu sudah terdapat pesawat terbang? Atau apapun yang dapat membawa seseorang itu ke angkasa, kemudian ia mencoba menghirup napas di sana dan akhirnya menyimpan pengalamannya itu dalam al Qur’an? Jika Ya, segera carilah informasi tentangnya. Jika Tidak Ada, maka seharusnya anda mengakui ketakjuban anda atas ayat di atas.
            Oksigen merupakan unsur gas dengan symbol ’O’. Gas ini tidak berwarna dan tidak mempunyai rasa. Di dalam tubuh, oksigen diedarkan ke seluruh tubuh oleh darah. Oksigen diperlukan oleh sel untuk mengubah glukosa menjadi energi. Selanjutnya energi inilah yang digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas seperti aktifitas fisik, penyerapan makanan, membangun kekebalan tubuh, pemulihan kondisi tubuh dan penghancuran bebarapa racun sisa metabolisme.Kekurangan oksigen menyebabkan metabolisme tidak berlangsung sempurna. Akibatnya tubuh terasa lelah, pegal-pegal, mengantuk, kekabalan tubuh menurun sehingga mudah terserang penyakit.
Manusia yang normal akan membutuhkan oksigen sekitar 375 liter per hari. Secara alamiah, kita mendapatkan oksigen dengan bernapas melalui paru-paru. Oksigen sampai di paru-paru kemudian ke alveoli lalu akan diikat oleh hemoglobin di dalam darah. Kemudian disalurkan ke seluruh tubuh untuk membantu proses pembakaran glukosa menjadi energi.
            Sekali kita menghirup nafas, paru-paru bisa menampung sekitar 500 ml udara ke dalam tubuh. Dalam kondisi lelah, seperti sehabis olah raga, kebutuhan tersebut akan meningkat 5-10 kali lipat. Saat berolahraga, tubuh akan merasa lelah karena asupan oksigennya berkurang.
            Dalam suhu ruangan, air secara alamiah sudah mengandung oksigen sebanyak 10 ppm atau 10 miligram per liter. Pada suhu lebih rendah (misalnya dalam lemari pendingin), kadar oksigen bisa meningkat hingga 15 ppm.
            Perlu diketahui, bila asupan oksigen di dalam tubuh berada dalam kadar yang normal, maka akan mendukung kesehatan kita. Namun, bila kadarnya terlalu tinggi, maka akan bersifat berbahaya karena oksigen bersifat radikal bebas. Radikal bebas merupakan salah satu faktor pencetus terjadinya kanker. Tanda–tanda  kekurangan oksigen antara lain:
1.Badan cepat lelah, letih dan lesu .
2.Daya tahan tubuh cepat menurun sehingga mudah terserang infeksi.
3.Otot terasa pegal - pegal dan linu - linu.
4.Tekanan darah tinggi / rendah.
5.Gangguan pencernaan.

   Sedangkan manfaat oksigen bagi tubuh yaitu:
1.Lebih banyak oksigen dalam tubuh akan miningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit.
2.Lebih banyak oksigen dalam otot akan meningkatkan performa, sehingga terlihat lebih segar dan selalu energik.
3.lebih banyak oksigen dalam otak membuat kita berpikir lebih jernih, tajam dan lebih wapada.
4.Lebih banyak oksigen dalam kulit akan menjadikan kulit lebih segar, lebih sehat dan awet muda.


Sekarang mengapa oksigen bisa muncul? Dari mana datangnya? Dari air. Sebelum adanya air? Dari hujan kosmik. Ingatkah anda saat bumi baru saja lahir? Benda-benda langit begitu kacaunya sehingga planetoid berjatuhan ke bumi. Batuan-batuan angkasa ini memiliki kandungan oksigen di dalamnya yang kemudian bercampur dengan hidrogen yang begitu melimpah ruah di antariksa. Batu-batu ini bisa berasal dari tata surya, bisa berasal dari bintang lain, bahkan bisa berasal dari galaksi lain. Mereka tercipta dari inti bintang yang meledak karena terlalu tua. Ledakan ini bernama supernova. Dan karena inti bintang mengandung oksigen maka letusannyapun mengandung oksigen. Kenapa oksigen ada di inti bintang?

 

 

 Di dalam inti bintang terjadi reaksi nuklir yang merubah hidrogen menjadi unsur berat. Dalam tabel berkala unsur-unsur, hidrogen adalah atom paling sederhana karena memiliki satu partikel penyusun nukleus. Tekanan dan suhu luar biasa tinggi di inti bintang, memaksa atom-atom hidrogen untuk bergabung menjadi atom-atom berat. Bila atom ini mengandung dua partikel penyusun nukleus, maka ia disebut helium. Bila mencapai delapan, ia disebut oksigen.

Atom-atom berat ini tidak selalu berada di inti bintang, ia bisa terdepak keluar karena arus konveksi yang bergejolak. Sebagian tentu tetap mengendap dan berproses lebih jauh. Hingga nukleus atom terberat yang mungkin tercipta, yaitu besi. Setelah inti dipenuhi besi, inti bintang tidak mampu lagi mengubahnya dan akhirnya meledak. Letusan akbar tercipta. Bagian bintang yang terlempar ini mendingin seiring menjauhnya ia dari asalnya. Mendingin terus dan akhirnya menjadi padat. Menjadi batuan-batuan yang akhirnya jatuh ke bumi. Mengantarkan oksigen yang tercampur karbon dan hidrogen ke daratan dan lautan lahar.

Akhirnya kitapun menarik napas lega karena pertanyaan kita terjawab. Dan nafas yang kita tarik benar-benar lega karena oksigen telah benar-benar penuh mengisi atmosfer, dua setengah miliar tahun setelah penciptaan bumi. Maka dari itu sekali lagi perbanyaklah mensyukuri Nikmat – nikmat Allah dalam hidup anda! Yang begitu banyaknya seperti Oksigen ini, agar kita senantiasa meninggikan harga diri kita di hadapan Allah, dan Allah-pun tidak membayar kita dengan Neraka-Nya. Karena di Neraka itu ternyata sedikit sekali Oksigen: 


Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih),
(QS. Huud (11): 106)

            Ayat diatas selain sebagai ayat ancaman Allah bagi manusia, ia juga berfungsi sebagai ayat Sains yang luar biasa. Ayat diatas sangat ilmiah karena kita ketahui dengan pasti bahwa Lilin akan mati apabila ditutup dengan gelas. Artinya api itu tidak dapat bersatu dengan udara atau oksigen. Apalagi di Neraka yang unsur apinya jelas super besar?
Jadi kesimpulannya Neraka adalah suatu tempat nyata yang mungkin berada di planet atau dimensi lain dengan kadar oksigen sangat rendah dan bahkan mendekati nol. Itulah tempatnya orang–orang yang sangat rendah pula dalam mensyukuri hidupnya!
                Akhirnya, dari ayat sains kita yang pertama ini, selagi Oksigen masih mengisi kerongkongan dan paru–paru anda dengan jumlah yang banyak dan gratis, manfaatkanlah ‘fasilitas’ Allah itu dengan bijak. Pergunakan ia untuk terus berusaha mencapai cita–cita positif yang berguna bagi diri anda sendiri dan orang lain. Karena hanya dengan itulah baru dapat dikatakan kita telah pandai mensyukuri Nikmat Allah.   


[1] Bagaimana Orang Melakukannya? Alih bahasa Dr. Alexander Sindoro. p. 211

2 komentar: